Screenshot
JAKARTA | Garuda Betawi — Di balik gemerlap lampu stan otomotif dan dentuman musik panggung utama Jakarta Fair atau Pekan Raya Jakarta (PRJ) Kemayoran, aroma khas ketan bakar dan telur bebek yang gurih menyeruak di antara kerumunan pengunjung. Di sudut-sudut koridor, kepulan asap tipis membubung dari anglo-anglo kecil berisi arang membara.
Bagi warga Jakarta, kerak telor bukan sekadar kudapan fana penumpas lapar. Ia adalah identitas kuliner Betawi yang masih bertahan. Namun bagi para pedagangnya, ajang tahunan PRJ adalah medan laga “panen raya” yang mampu mendatangkan omzet hingga puluhan juta rupiah hanya dalam hitungan hari.
Fenomena ini dialami langsung oleh para pencari suaka ekonomi musiman di Kemayoran. Berdasarkan laporan lapangan, perputaran uang di sektor kuliner tradisional, khususnya kerak telor, melonjak drastis selama gelaran PRJ berlangsung. Tidak main-main, seorang pedagang bahkan mampu mencatatkan omzet hingga Rp3,5 juta per hari.
Perputaran Roda Ekonomi dari Seporsi Kuliner Legendaris
Jika dikalkulasikan secara kasar, seporsi kerak telor orisinal dengan telur ayam atau bebek dibanderol pada kisaran Rp30.000 hingga Rp35.000 di area pameran. Untuk menyentuh angka pendapatan Rp3,5 juta, seorang pedagang harus mampu meracik dan menjual sedikitnya 100 hingga 120 porsi setiap harinya.

“Kalau hari biasa (Senin-Kamis) mungkin agak landai, tapi kalau sudah masuk weekend (Jumat-Minggu) atau malam hari libur, pembeli bisa mengantre panjang. Tangan hampir tidak berhenti mengipas anglo,” ujar salah satu potret pekerja keras di balik bilik pikulan kayu tersebut.
Tingginya angka penjualan ini dipicu oleh beberapa faktor strategis yang saling berkaitan:
- Nostalgia Kuliner: Banyak pengunjung luar daerah atau warga Jakarta sendiri yang sengaja datang ke PRJ karena tahu mereka akan dengan mudah menemukan kerak telor yang autentik di sini.
- Durasi Pameran yang Panjang: Gelaran PRJ yang berlangsung selama satu bulan penuh memberikan stabilitas pendapatan bagi para pedagang kaki lima yang mendapat lisensi berjualan di dalam area.
- Volume Pengunjung Fantastis: Jutaan manusia yang memadati area JiExpo Kemayoran setiap tahunnya menjadi target pasar yang sangat masif.
Sisi Lain: Modal Besar di Balik Layar
Meskipun angka Rp3,5 juta per hari terdengar sangat menggiurkan bagi bisnis skala mikro, pendapatan tersebut bukanlah keuntungan bersih (net profit). Menjadi bagian dari ekosistem PRJ membutuhkan investasi dan manajemen modal yang matang.
Para pedagang harus mengalokasikan dana yang tidak sedikit untuk beberapa pos pengeluaran berikut:
| Pos Pengeluaran | Deskripsi Beban Operasional |
| Sewa Lapak (Standard Retail) | Biaya resmi izin tempat dari pihak penyelenggara pameran selama sebulan penuh. |
| Bahan Baku Berkualitas | Pembelian pasokan beras ketan, telur bebek, kelapa sangrai (serundeng), dan ebi dalam jumlah besar harian. |
| Logistik Arang Batangan | Konsumsi bahan bakar tradisional (arang) yang terus menyala dari sore hingga tengah malam. |
| Bagi Hasil / Tenaga Kerja | Sebagian pedagang menggunakan sistem bagi hasil dengan pemilik pikulan atau membayar asisten penumbuk bumbu. |
Merawat Tradisi Lewat Transaksi
Dari perspektif sosiologi ekonomi, fenomena meledaknya omzet kerak telor di PRJ menunjukkan bahwa kuliner tradisional memiliki daya lentur (resilience) yang luar biasa di tengah gempuran tren makanan modern-aesthetic berbasis waralaba internasional.
PRJ berhasil menjadi wadah kompromi yang apik: tempat di mana industri modern skala besar bersanding mesra dengan ekonomi kerakyatan berbasis kearifan lokal. Selama asap anglo masih mengepul di Kemayoran dan masyarakat masih rela mengantre demi sepiring ketan telur yang dibalik di atas bara, maka selama itu pula ekonomi kreatif Betawi akan terus mandiri dan menghidupi.
