Jakarta |Garuda Betawi – Nama Ali Sadikin atau yang akrab disapa “Bang Ali” tidak bisa dilepaskan dari sejarah transformasi Jakarta menjadi kota metropolitan modern. Namun lebih dari sekadar pembangunan fisik, warisan terbesarnya justru terletak pada keberhasilannya menghidupkan kembali identitas budaya Betawi di tengah arus urbanisasi.
Dilansir dari situs resmi Institut Kesenian Jakarta, Bang Ali dilantik sebagai Gubernur DKI Jakarta pada 28 April 1966 oleh Presiden Soekarno. Ia dinilai sebagai sosok yang cakap dan visioner dalam mengelola ibu kota di masa transisi pembangunan nasional.
Membangun Jakarta, Menata Peradaban Kota
Bang Ali bukan hanya pemimpin pembangunan, tetapi juga penjaga identitas. Ia membuktikan bahwa modernisasi tidak harus menghapus tradisi, melainkan bisa berjalan berdampingan untuk membentuk kota yang berkarakter.
Di bawah kepemimpinannya (1966–1977), Jakarta mengalami lompatan besar dalam pembangunan. Berbagai proyek strategis lahir dari gagasan Bang Ali, seperti pembangunan Taman Ismail Marzuki, kawasan wisata Ancol, hingga pengembangan Kebun Binatang Ragunan.
Tak hanya itu, ia juga memperbaiki sistem transportasi dengan menghadirkan bus kota dan penataan trayek yang lebih teratur, serta membangun fasilitas publik yang menunjang kehidupan warga. Jakarta mulai bertransformasi dari kota administratif menjadi kota modern dengan identitas kuat.
Pelopor Kebangkitan Budaya Betawi
Di balik pembangunan fisik, Bang Ali memiliki visi yang lebih dalam: menjaga ruh budaya lokal. Ia menyadari bahwa kota besar tanpa budaya akan kehilangan jati dirinya.
Melalui berbagai kebijakan, Bang Ali menghidupkan kembali budaya Betawi, mulai dari seni pertunjukan seperti lenong dan topeng Betawi, hingga ikon budaya seperti ondel-ondel dan kuliner khas seperti kerak telor. Ia juga menggagas perayaan ulang tahun Jakarta sebagai pesta rakyat setiap 22 Juni.
Langkah ini menjadi titik balik kebangkitan identitas Betawi sebagai budaya asli Jakarta yang sebelumnya mulai terpinggirkan.
Lahirnya Pusat Kesenian dan Ekosistem Seni

Komitmen Bang Ali terhadap seni juga terlihat dari pendirian pusat kesenian terintegrasi di ibu kota. Ia menggagas berdirinya Taman Ismail Marzuki sebagai ruang kreatif bagi para seniman, yang kemudian berkembang menjadi ekosistem seni melalui pembentukan lembaga pendidikan seni.
Visinya sederhana namun kuat: kota modern harus memiliki kehidupan budaya yang hidup dan berkelanjutan.
Sosok Pemimpin yang Dekat dengan Rakyat
Bang Ali dikenal sebagai pemimpin yang merakyat. Ia tidak hanya fokus pada pembangunan besar, tetapi juga memperhatikan aspek sosial, termasuk kesejahteraan seniman dan masyarakat kecil di Jakarta.
Julukan “Bang” yang melekat pada dirinya mencerminkan kedekatan emosional dengan warga, layaknya saudara yang memimpin dengan pendekatan humanis.
Warisan yang Masih Terasa Hingga Kini
Hingga hari ini, jejak kepemimpinan Bang Ali masih terasa. Jakarta tidak hanya berdiri sebagai kota megapolitan, tetapi juga sebagai ruang hidup budaya yang terus berkembang.
Dalam konteks kekinian, kebijakan seperti penggantian nama jalan menggunakan tokoh Betawi menjadi relevan sebagai kelanjutan dari semangat Bang Ali—yakni mengabadikan sejarah dan menjaga identitas lokal di ruang publik.
Masa jabatan Ali Sadikin berakhir pada tahun 1977, dan dia digantikan oleh Letjen. Tjokropranolo. Setelah berhenti dari jabatannya sebagai Gubernur, Ali Sadikin tetap aktif dalam menyumbangkan pikiran-pikirannya untuk pembangunan kota Jakarta dan negara Indonesia. Hal ini membawanya kepada oposisi sebagai anggota Petisi 50, sebuah kelompok yang terdiri dari tokoh-tokoh militer dan swasta yang kritis terhadap pemerintahan mantan Presiden Soeharto.
Sejumlah proyek yang berhasil dijalankan semasa pemerintahan Ali Sadikin antara lain:
- Peresmian tempat rekreasi Bina Ria Ancol tahun 1968, yang merupakan bagian dari proyek Ancol seluas 552 hektar.
- Pembagian Jakarta menjadi 5 Kota Madya, yaitu Jakarta Pusat, Jakarta Utara, Jakarta Barat, Jakarta Selatan, dan Jakarta Timur.
- Pembukaan Djakarta Fair pertama di Kawasan Monumen Nasional (Monas) tahun 1968.
- Peresmian Taman Ismail Marzuki tahun 1968.
- Sejumlah sarana olahraga, seperti Jakarta Bowling Centre tahun 1970.
- Lapangan Tembak Senayan tahun 1971.
- Lapangan Pacuan Kuda Pulomas tahun 1971.
- Peresmian Terminal Bus Lapangan Banteng, Jakarta Pusat tahun 1967.
- Peresmian terminal Blok M, Kebayoran Baru tahun 1968.
- Pembangunan Terminal Oplet di Jatinegara dan beroperasi tahun 1968.
- Terminal Jakarta Kota tahun 1969.
- Terminal Tanjung priok tahun 1969.
- Pasar Melawai Blok M, Kebayoran Baru tahun 1968.
- Pasar Jatinegara tahun 1969.
- Pasar Grogol tahun 1969.
- Pusat pertokoan Glodok Building tahun 1971.
- Peresmian Pasar Induk Cipinang tahap pertama tahun 1974.
- Penetapan kawasan industri di Pulo Gadung tahun 1969.
- Rumah Sakit Kanker di Jl. S. Parman tahun 1970.
Bang Ali meninggal dunia di Singapura pada hari Selasa, 20 Mei 2008. Dia meninggalkan lima orang anak lelaki dan istri keduanya yang dia nikahi setelah Nani terlebih dahulu meninggal dunia.
