Jakarta | Garuda Betawi – Pemerintah Provinsi DKI Jakarta resmi mengganti sejumlah nama jalan dengan nama tokoh-tokoh Betawi sebagai bentuk penghormatan atas jasa dan kontribusi mereka terhadap budaya, agama, dan kehidupan sosial masyarakat ibu kota. Kebijakan ini menjadi langkah strategis dalam menjaga identitas lokal di tengah pesatnya modernisasi Jakarta.
Gubernur DKI Jakarta saat itu, Anies Baswedan, menegaskan bahwa perubahan nama jalan ini bukan sekadar administratif, melainkan bagian dari upaya membangun kesadaran sejarah di kalangan generasi muda.
“Mereka adalah pribadi-pribadi yang kita kenang karena telah memberikan manfaat bagi sesama,” ujar Anies dalam keterangannya.
Mengangkat Tokoh Lokal ke Ruang Publik
Sebanyak 22 nama tokoh Betawi diabadikan menjadi nama jalan, mulai dari budayawan, ulama, hingga tokoh masyarakat yang memiliki pengaruh besar dalam perkembangan Jakarta. Nama-nama seperti Entong Gendut, Mpok Nori, hingga Syekh Junaid Al-Batawi kini tidak hanya dikenang dalam cerita, tetapi juga hadir dalam keseharian warga melalui penamaan jalan.
Langkah ini dinilai sebagai bentuk konkret pelestarian budaya Betawi yang selama ini mulai tergerus oleh perkembangan urbanisasi dan globalisasi.
Strategi Penguatan Identitas Betawi

Pengamat budaya menilai kebijakan ini memiliki dampak jangka panjang dalam memperkuat identitas Jakarta sebagai kota yang berakar pada budaya Betawi. Selain itu, penamaan jalan juga menjadi sarana edukasi publik yang efektif.
Dengan melihat nama jalan, masyarakat secara tidak langsung diajak mengenal sejarah dan tokoh-tokoh lokal yang berjasa. Hal ini membuka ruang diskusi dan rasa ingin tahu, terutama bagi generasi muda.
Respons Positif Masyarakat
Sejumlah warga menyambut baik kebijakan ini. Mereka menilai langkah pemerintah sebagai bentuk penghargaan yang layak bagi para tokoh Betawi.
“Ini bukan hanya soal nama jalan, tapi soal menghargai sejarah kita sendiri,” ujar salah satu warga Jakarta.
Namun demikian, pemerintah juga memastikan bahwa proses perubahan nama jalan dilakukan secara bertahap dengan sosialisasi yang masif agar tidak menimbulkan kebingungan di masyarakat, terutama terkait administrasi alamat.
Komitmen Melestarikan Budaya Betawi
Kebijakan ini menjadi bagian dari komitmen jangka panjang Pemprov DKI Jakarta dalam menjaga eksistensi budaya Betawi. Selain penamaan jalan, berbagai program lain seperti festival budaya, revitalisasi kampung Betawi, hingga edukasi di sekolah terus digencarkan.
Dengan diabadikannya nama-nama tokoh Betawi di ruang publik, Jakarta tidak hanya berkembang sebagai kota metropolitan, tetapi juga tetap berpijak pada akar budaya dan sejarahnya.
