JAKARTA|Garuda Betawi — Ibu kota kembali dicekam kecemasan. Aksi pembegalan bermodus begal motor dan pembacokan acak kian hari kian nekat terjadi di sudut-sudut jalan Jakarta, bahkan di bawah sorot lampu jalanan yang terang. Fenomena kriminalitas jalanan ini tidak lagi sekadar menjadi domain aparat penegak hukum, melainkan telah mengoyak urat nadi kenyamanan sosial dan ketenteraman psikologis warga asli maupun pendatang di tanah Betawi.
Menyikapi eskalasi kekerasan jalanan yang kian marak ini, Ahmad Nuryadi, Ketua Yayasan Garuda Betawi Raya, menyampaikan pandangan mendalam, sikap kelembagaan, serta harapan konkritnya melalui sebuah catatan reflektif sosiologis berikut ini.
Menatap Jakarta yang Terluka: Begal, Degradasi Moral, dan Hilangnya Marwah Kampung
Oleh: Ahmad Nuryadi (Ketua Yayasan Garuda Betawi Raya)
“Melihat Jakarta hari ini, hati saya miris. Saban hari kita disuguhi berita anak-anak muda, yang bahkan sebagian masih di bawah umur, menenteng senjata tajam berukuran tak masuk akal di atas motor, mengincar sesama warga di jalanan. Ini bukan sekadar masalah kriminalitas biasa; ini adalah alarm keras bahwa ada sesuatu yang patah dalam sistem sosial dan ketahanan kultural kita di Jakarta.
Sebagai bagian dari simpul kebudayaan Betawi, Garuda Betawi memandang fenomena begal ini dari kacamata yang lebih luas—bukan sekadar urusan hukum pidana, melainkan runtuhnya benteng pertahanan moral di tingkat keluarga dan komunitas.”
1. Sikap Tegas: Kutukan terhadap Kekerasan dan Desakan Penegakan Hukum
Secara kelembagaan, kami mengutuk keras segala bentuk aksi begal dan kekerasan jalanan yang merenggut rasa aman warga Jakarta. Tanah Betawi ini dibangun di atas fondasi adab, religiusitas, dan kesantunan. Aksi-aksi brutal tersebut sama sekali tidak mencerminkan nilai-nilai luhur yang diwariskan oleh leluhur kita.
Kami menyatakan sikap tegas terkait situasi ini:
- Mendukung Tindakan Tegas Aparat: Kami mendukung penuh Kepolisian Daerah Metropolitan Jakarta Raya (Polda Metro Jaya) untuk mengambil tindakan hukum yang tegas, terukur, dan tanpa pandang bulu terhadap para pelaku. Hukum harus ditegakkan demi mengembalikan wibawa negara di jalanan.
- Menolak Normalisasi Kenakalan Remaja: Banyak pelaku begal ternyata adalah remaja yang terlibat geng motor. Kita tidak boleh lagi berlindung di balik frasa “hanya kenakalan remaja” jika tindakan mereka sudah mengancam nyawa orang lain.
- Kritik terhadap Pengawasan Ruang Publik: Maraknya begal menunjukkan masih banyaknya ‘titik buta’ (blind spot) di Jakarta. Fasilitas penerangan jalan dan pengawasan berbasis teknologi (CCTV) di wilayah-wilayah rawan harus ditingkatkan secara radikal.
2. Sudut Pandang Kultural: Mengapa “Jawara” Dulu Berbeda dengan “Begal” Sekarang?
Dalam sejarah sosiologi Jakarta, masyarakat Betawi mengenal konsep Jawara atau Maen Pukul (pesilat). Namun, ada distorsi pemahaman yang sangat jauh antara nilai ksatria masa lalu dengan mentalitas begal masa kini.
| Atribut | Jawara Betawi (Dulu) | Pelaku Begal (Kini) |
| Motivasi | Membela kampung, menegakkan keadilan, melindungi yang lemah. | Kebutuhan ekonomi jangka pendek, eksistensi geng, pengaruh narkoba/alkohol. |
| Prinsip Ilmu | “Lu jual gue beli, lu gak jual gue gak nyari.” (Hanya membela diri). | Menyerang secara acak, licik, dan menyasar korban yang tidak berdaya. |
| Fondasi Moral | Dibekali ilmu agama yang kuat (mengaji) dan restu orang tua. | Kehilangan figur otoritas di rumah, putus sekolah, kekosongan spiritual. |
“Dulu, anak muda Betawi belajar silat buat jaga kampung, bela ulama, dan ngebela orang susah. Sekarang, sebagian anak muda bawa celurit di jalanan cuma buat gagah-gagahan di media sosial atau merampas hak orang lain. Ini adalah bentuk degradasi moral yang sangat menyedihkan.”
3. Harapan dan Solusi: Menghidupkan Kembali “Sistem Jaga Kampung”
Melawan begal tidak bisa hanya mengandalkan polisi yang jumlah personelnya terbatas dibanding luasnya wilayah Jakarta. Harapan besar kami bertumpu pada reaktivasi ketahanan komunitas. Jakarta harus kembali ke akarnya: komunitas yang saling peduli, bukan kota metropolitan yang individualis.
Kami menawarkan dan mengharapkan beberapa langkah konkret ke depan:
- Revitalisasi Siskamling Moderen: Kita harus menghidupkan kembali budaya ronda malam, namun dengan pendekatan moderen. Libatkan karang taruna, ormas-ormas kebudayaan lokal, dan warga untuk aktif berpatroli di jam-jam rawan bersama bhabinkamtibmas. Jangan biarkan jalanan sepi dikuasai oleh para kriminal.
- Penguatan Peran Keluarga dan Ulama/Tokoh Agama: Benteng pertama adalah rumah. Orang tua harus tahu dengan siapa anaknya bergaul dan apa yang ada di dalam bagasi motornya. Tokoh agama dan budayawan harus turun gunung, mengisi ruang-ruang kosong di hati para remaja dengan edukasi moral yang menyentuh realitas hidup mereka.
- Penyediaan Wadah Ekspresi Positif: Pemerintah Provinsi DKI Jakarta bersama lembaga kebudayaan perlu memperbanyak ruang kreatif, pusat pelatihan kerja, dan kompetisi olahraga/seni di pemukiman padat penduduk. Banyak remaja jatuh ke dunia kriminal karena mereka tidak tahu ke mana harus menyalurkan energi mudanya yang meluap-luap.
Penutup
Jakarta tidak boleh kalah oleh begal. Kita tidak ingin warga kota ini dicekam ketakutan setiap kali harus pulang larut malam demi mencari nafkah. Yayasan Garuda Betawi Raya siap bersinergi dengan Pemprov DKI, kepolisian, dan seluruh elemen masyarakat untuk mengembalikan Jakarta sebagai rumah yang aman, ramah, dan bermartabat bagi siapa saja yang tinggal di dalamnya.
Kota ini punya sejarah panjang tentang keberanian, dan keberanian itu harus kita gunakan hari ini untuk menjaga kedamaian kampung halaman kita.
Catatan Redaksi: Catatan ini dirilis sebagai bentuk kepedulian sosial dari Yayasan Garuda Betawi terhadap isu-isu keamanan terkini yang berdampak langsung pada tatanan sosial masyarakat di Jakarta.
