Jakarta | Garuda Betawi — Dewan Adat Bamus Betawi (DA BABE) mengirim pesan kuat terkait masa depan masyarakat Betawi di tengah perubahan status Jakarta menuju Daerah Khusus dan kota global.
Pesan tersebut mengemuka dalam kegiatan Halal Bihalal & Silaturahmi Kebangsaan serta Rapat Kerja III Dewan Adat Bamus Betawi yang digelar di Gedung Vokasi Kementerian Ketenagakerjaan RI, Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Minggu (10/5/2026), dan dihadiri sekitar 250 peserta dari unsur tokoh masyarakat, organisasi kebetawian, akademisi, hingga pemerintah.
Ketua Umum Dewan Adat Bamus Betawi, Eki Pitung, menegaskan bahwa masyarakat Betawi tidak boleh hanya menjadi simbol budaya di tengah perubahan besar Jakarta.
“Jakarta boleh berubah menjadi kota global, tetapi masyarakat Betawi tidak boleh kehilangan ruang dan perannya. Betawi jangan sampai hanya jadi penonton di tanahnya sendiri,” tegas Eki Pitung dalam sambutannya.
Kegiatan berlangsung dengan nuansa kental budaya Betawi melalui prosesi palang pintu yang mendapat dukungan dari Dinas Kebudayaan DKI Jakarta. Suasana silaturahmi juga semakin hangat dengan berbagai rangkaian budaya dan dialog kebangsaan yang berlangsung hingga sore hari.

Salah satu momen yang menyita perhatian peserta adalah penyerahan simbolis golok Betawi kepada Wakil Menteri Ketenagakerjaan RI, Afriansyah Noor. Penyerahan tersebut dimaknai sebagai simbol kehormatan, persaudaraan, serta harapan agar masyarakat Betawi dapat mengambil peran lebih besar dalam pembangunan sumber daya manusia dan ketenagakerjaan nasional.
Dalam kegiatan tersebut hadir Kepala BPJPH RI Babe Haikal Hasan dan Wakil Menteri Ketenagakerjaan RI Afriansyah Noor yang menyampaikan orasi pemikiran tokoh terkait penguatan masyarakat Betawi, pembangunan nasional, serta pentingnya penguatan sumber daya manusia di era perubahan Jakarta.
Sementara pada sesi diskusi publik pengantar Rapat Kerja III, hadir Dr. Rijal Gibran, Brigjen TNI (Purn) Jamaluddin, serta Sekretaris Dinas Kebudayaan DKI Jakarta yang membahas arah perubahan Jakarta, posisi masyarakat Betawi, hingga tantangan menjaga identitas budaya di tengah perkembangan kota global.
Selain menjadi ruang silaturahmi kebangsaan, forum Rapat Kerja III DA BABE juga menghasilkan sejumlah rekomendasi strategis organisasi, mulai dari penguatan internal kelembagaan, peningkatan kualitas SDM Betawi, hingga dorongan penguatan posisi masyarakat hukum adat Betawi dalam arah baru Jakarta.
Rapat kerja tersebut menjadi bagian dari konsolidasi organisasi dalam mempertegas posisi Dewan Adat Bamus Betawi sebagai ruang perjuangan masyarakat Betawi di tengah dinamika Jakarta dan Indonesia.
“Betawi punya sejarah besar dalam perjalanan Jakarta dan Indonesia. Karena itu masyarakat Betawi harus ikut menentukan masa depan Jakarta, bukan sekadar menjadi pelengkap budaya,” tutup Eki Pitung.

