JAKARTA |Garuda Betawi – Sebagai langkah nyata untuk menjaga eksistensi salah satu warisan budaya lokal, Dinas Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta resmi menerbitkan buku “Kamus Bahasa Betawi: Pengayaan Kosakata” (2023). Buku setebal lebih dari 800 halaman ini menjadi jawaban atas kekuranglengkapan dokumentasi kebahasaan Betawi di era modern.
Kamus ini disusun oleh tim ahli yang terdiri dari Yahya Andi Saputra, Mu’jizah, Fadjriah Nurdiarsih, dan Rudy Haryanto. Mereka melakukan pengembangan penting dengan menambahkan sekitar 1.200 kosakata baru. Penambahan tersebut diintegrasikan ke dalam kamus induk (babon) legendaris, yaitu Kamus Dialek Jakarta karya maestro linguistik Betawi, almarhum Abdul Chaer.
Kepala Dinas Kebudayaan DKI Jakarta, Iwan Henry Wardhana, mengungkapkan bahwa langkah revitalisasi ini sangat mendesak. Meskipun bahasa Betawi telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda sejak tahun 2018, status tersebut bisa saja dievaluasi atau dicabut jika tidak ada rencana aksi perlindungan yang konkret.
“Dinas Kebudayaan menyadari, tanpa upaya sungguh-sungguh maka akan semakin banyak kosakata bahasa Betawi yang hilang,” ujar Iwan Henry Wardhana dalam sambutannya. Ia juga menyoroti tantangan besar yang dihadapi bahasa Betawi saat ini di tengah masifnya gempuran budaya asing.
Selain menyajikan ribuan lema kata perbendaharaan bahasa, buku ini juga memuat kajian mendalam mengenai latar belakang sosiologis masyarakat Betawi, pemetaan subdialek (logat) wilayah, hingga struktur tata bahasa (fonologi dan morfologi). Sumber pengayaan kosakatanya pun tidak main-main, karena tim penyusun turut menelisik manuskrip-manuskrip kuno beraksara Latin yang tersimpan di Perpustakaan Nasional RI.
Melalui penerbitan buku ini, pemerintah DKI Jakarta berharap vitalitas bahasa Betawi tetap terjaga sebagai identitas kokoh masyarakat Jakarta di tengah perkembangan kota yang telah menjelma menjadi megapolitan. Buku ini kini diposisikan sebagai oase edukasi dan rujukan utama bagi akademisi, peneliti, maupun masyarakat luas yang peduli pada pelestarian kearifan lokal.
