CIAMIS | Garuda Betawi – Kunjungan Sudaryono ke Ciamis membawa pesan kuat: sektor peternakan rakyat tak hanya soal produksi pangan, tetapi juga masa depan ekonomi kerakyatan. Dalam forum Konsolidasi Peternak Rakyat Nasional 2026, Wamentan menegaskan bahwa program Makan Bergizi Gratis (MBG) berpotensi menjadi pengungkit kesejahteraan peternak.
Menurutnya, program MBG tidak boleh sekadar menjadi agenda bantuan sosial, melainkan harus mampu menyerap hasil produksi peternak lokal secara berkelanjutan. Dengan demikian, rantai pasok pangan nasional dapat langsung terhubung dengan peternak rakyat sebagai aktor utama.
“Produksi ayam dan hasil peternakan rakyat harus masuk dalam ekosistem MBG. Ini bukan hanya soal distribusi makanan, tapi soal bagaimana ekonomi rakyat bergerak,” ujarnya dalam kegiatan yang dihadiri ratusan pelaku usaha peternakan.
Dalam kesempatan tersebut, Sudaryono juga menekankan bahwa arah kebijakan pemerintah di sektor pangan saat ini semakin berpihak pada petani dan peternak. Hal ini tercermin dari berbagai regulasi yang telah diterbitkan dalam beberapa waktu terakhir untuk memperkuat distribusi pupuk, irigasi, hingga stabilisasi harga hasil pertanian.
Ia menegaskan, pemerintah tidak menginginkan mekanisme pasar berjalan liar tanpa kontrol, terutama pada komoditas strategis seperti ayam, telur, dan beras. Harga, menurutnya, harus dijaga agar tidak terlalu rendah yang merugikan peternak, namun juga tidak terlalu tinggi bagi konsumen.
Lebih jauh, Wamentan mengingatkan bahwa sektor peternakan dan pertanian adalah ruang ekonomi rakyat yang tidak boleh dikuasai sepenuhnya oleh korporasi besar. Negara, kata dia, hadir untuk menjaga keseimbangan agar pelaku usaha kecil tetap memiliki ruang hidup yang adil di tengah persaingan.
Program MBG sendiri dinilai memiliki efek berantai yang luas. Selain menjamin kebutuhan gizi masyarakat, program ini juga membuka pasar baru bagi peternak, petani, hingga pelaku UMKM lokal. Dengan skema yang tepat, kebutuhan bahan baku MBG dapat dipasok langsung dari produksi dalam negeri, sehingga menciptakan siklus ekonomi yang berkelanjutan.
Di sisi lain, Sudaryono juga mendorong penguatan hilirisasi di sektor peternakan, termasuk pengolahan produk unggas agar memiliki nilai tambah lebih tinggi. Langkah ini dinilai penting untuk meningkatkan daya saing produk lokal sekaligus memperluas pasar.
Kunjungan tersebut tidak hanya menjadi forum dialog, tetapi juga momentum konsolidasi antara pemerintah, peternak, akademisi, dan pelaku usaha dalam membangun ekosistem peternakan yang lebih kuat. Antusiasme peserta terlihat tinggi, bahkan Wamentan sempat dikerumuni peserta yang ingin berdiskusi hingga berswafoto usai acara.
Dengan arah kebijakan yang semakin terstruktur dan dukungan program nasional seperti MBG, pemerintah optimistis sektor peternakan rakyat akan menjadi salah satu pilar utama dalam menjaga ketahanan pangan sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi dari desa.
